Episode 16 - Sejarah Penamaan Beberapa Pedukuhan di Cilacap

Sejarah Watukumpul, Jeruk Legi dan Cinoreng

Marilah kita mengikuti perjalanan Bagus Santri yang setelah sementara berada di Cikuya selanjutnya melanjutkan perjalanan ke arah utara menyusuri kali yang amat jernih airnya. Sambil istirahat dan menunaikan sembahyang, Bagus Santri mengumpulkan beberapa buah batu di tempat tersebut. Di kemudian hari dimana batu-batu tersebut dikumpulkan oleh Bagus Santri, sementara orang menyebutnya dengan nama “Watu Kumpul”.
Sejarah Penamaan Beberapa Pedukuhan di Cilacap
Ilustrasi saat Bagus Santri menetap bersemedi di tepi kali
Watukumpul saat ini merupakan nama sebuah grumbul di Desa Brebeg. Perjalanan Bagus Santri diteruskan ke arah timur menyebrangi sebuah sungai dan sampailah Bagus Santri di sebuah pedukuhan dimana daerah pedukuhan itu penduduknya banyak menanam pohon jeruk. Untuk melepaskan dahaganya, Bagus Santri meminta kepada seorang penduduk sebuah jeruk yang sudah masak.

Pemilik pohon jeruk itu menyatakan tidak keberatan akan apa yang diminta oleh pendatang itu, dengan satu jawaban bahwa “meskipun jeruk itu sudah masak, rasanya sangat masam”(kecut, jw).

Dipetiklah sebuah jeruk oleh Bagus Santri yang kemudian dimakan untuk melepaskan dahaganya. Sesaat kemudian, Bagus Santri menyatakan kepada pemilik kebun jeruk itu bahwa “rasa jeruk yang baru saja dipetik dan dimakan tidak terasa masam, tetapi kenyataannya sangat manis.” Pemilik kebun jeruk itu kemudian mencoba untuk memetik dan memakan sebuah jeruk. Dengan rasa heran dan terkejut, buah jeruk yang selamanya terasa kecut atau masam, tiba-tiba saja berubah menjadi manis.

Dengan rasa gembira pula pemilik kebun jeruk itu mengundang beramai-ramai beberapa orang  tetangganya untuk mencoba buah jeruk miliknya. Untuk menyaksikan bahwa buah jeruk yang selama ini ditanam sekarang sudah tidak lagi asam rasanya.
Di kemudian hari, daerah itu dikenal dengan nama pedukuhan Jeruk Legi.

Bagus santri meneruskan perjalananya ke arah utara menyusuri lereng gunung yang saat itu masih terasa sangat sunyi keadaan penduduknya, rumah-rumah masih sangat jarang dan jarak antara rumah satu dengan yang lainnya masih berjauhan.

Untuk beberapa hari, bagus santri menetap dan tinggal di tempat yang sunyi. Keadaan yang sunyi di lereng pegunungan ternyata menarik hati Bagus Santri untuk tinggal di situ dengan maksud untuk melakukan semedi sampai empat puluh hari empat puluh malam dan setelah itu Bagus Santri meneruskan perjalanannya ke arah utara.

Tempat di mana Bagus Santri melakukan semedi dikemudian hari sementara orang menyebutnya “Cironeng”. Kata Cironeng diambil dari kata “Meneng” yang artinya berdiam.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Episode 16 - Sejarah Penamaan Beberapa Pedukuhan di Cilacap"

Posting Komentar

Terimakasih mengirim komentar, Anda akan mendapat tanggapan dari kami secepatnya, Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel