Episode 15 - Pengembaraan Santri Undig di Sebrang Bengawan Donan

Artikel Menarik lainnya

Sejarah Ombak si Banteng

Pada suatu hari sampailah Santri Undig di tepi pantai selatan dan bertemu dengan seorang tukang perahu yang akan meninggalkan tepian. Terjadilah percakapan antara tukang perahu dengan Bagus Santri, bahwa Bagus Santri akan menumpang perjalanan perahu tersebut. Maksud tersebut rupanya bisa diterima oleh tukang perahu, dengan beberapa pesan kepada calon penumpang, agar pada waktu perjalanan di laut nanti sampai di simpang lima muara kali, janganlah menyatakan sesuatu atau memukul perahu yang ditumpangi.

Beberapa pesan itu disampaikan juga kepada Bagus Santri sebagai orang yang masih asing dalam perjalanan di lautan.
Ternyata ketika sampai di tempat yang ditentukan tadi, tanpa ragu-ragu lagi Bagus Santri memukul perahu yang ditumpangi.

Sehingga si tukang perahu tadi itu berkata: “Tadi sudah aku katakan, janganlah berbuat sesuatu yang telah aku pesankan!” suaranya gemetar sambil mukanya berubah menjadi pucat pasi.
Belum lagi pembicaraan itu dilanjutkan, tiba-tiba dari arah lain menggelombanglah air laut dan merupakan ombak yang cukup besar menghantam perjalanan perahu itu, sehingga perahu yang di tumpangi terombang-ambing.

Bagus santri yang tenang-tenang melihat keadaan itu mengambil sapu lidi yang ada di situ, sebatang lidi itu dipukulkan ke arah air dan ombak laut yang tiba-tiba saja gelombang besar itu menjadi reda. Gelombang besar yang hendak menerjang tadi diredakan dengan menggunakan sebatang lidi aren (jw: sada lanang), dalam sekejap, gelombang yang menakutkan itu meredalah. Kemudian tempat di mana gelombang itu diredakan dengan sebatanga lidi aren, dinamakan kedung Sapu Regel.
Dengan meredanya gelombang tadi, terlihatlah bangkai seekor banteng, maka gelomabang yang besar tadi dinamakan dengan sebutan Ombak si Banteng.

Sejarah Buaya Ngawel

Ki Danayasa meneruskan perjalanannya dan masuk ke sungai menuju ke utara, di situ Bagus Santri menanyakan kepada ki Danayasa dimana ada buaya. Sebelum pertanyaan itu dijawab, tiba-tiba di depan arah perahu terlihat seekor buaya besar dengan mulut menganga. Ketika Ki Danayasa melihat seekor buaya yang sangat besar di depannya, mendadak mukanya menjadi pucat dan hampir-hampir tiada tahan memegang dayung.
Pengembaraan Santri Undig di Sebrang Bengawan Donan
Ilustrasi pertarungan Bagus Santri dengan Buaya Ngawel

Maka Bagus Santri yang melihat Ki Danayasa pucat, segera mengambil pusaka Cis Kyai Tilam Upih dan langsung dihujamkan ke buaya yang ada di depan perahu itu. Karena keampuhan keris Tilam Upih itu, buaya tadi mati dengan mengawatkan ekornya. Dan dikemudian hari tempat itu disebut dengan nama Buaya Ngawel.

Setelah buaya tadi mati, perahu terus melaju dan menyusuri kali dan sampailah di daerah pedalaman, dimana terlihat sebuah padi gaga. Di tempat itu Bagus Santri meminta kepada Ki Danayasa untuk mengehentikan perahunya. Setelah perahu itu berhenti, Bagus Santri turun. Sebelum berpisah dengan Ki Danayasa, tak lupa Bagus Santri mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sejak itu Bagus Santri berpisah dengan Ki Danayasa, menuju gubug di tengah ladang gaga (Padi).

Tempat dimana Bagus Santri dan Ki Danayasa bersalaman, kemudian hari disebut dengan nama Kedungsalam.
Karena merasa lelah, Bagus Santri masuk ke dalam gubug untuk beristirahat.

Karomah Santri Undig

Ketika Ki Wangsaita si pemilik ladang gaga itu datang ke gubug, amat terkejut melihat sosok laki-laki yang belum dikenal berada di dalam gubug. Maka terjadilah tegur sapa antara Ki Wangsaita dengan Bagus Santri.
Ki Wangsaita    : Ki Sanak, siapakah gerangan saudara ini dan dari mana asal saudara datang?
Bagus Santri    : Saya seorang santri yang datang dari Kadilangu, dan maksud kedatangan saya ingin membantu pekerjaan bapak, sekiranya diperkenankan.
Ki Wangsaita    : Benarkah maksud Gus Santri demikian?
Bagus Santri    : Benar bapak, saya ingin membantu pekerjaan Bapak di sini. Pekerjaan apapun yang akan diberikan kepada saya di sini, akan saya laksanakan.
Ki Wangsaita    : Sungguh tidak terduga bahwa saya akan mendapatkan seorang pembantu, untuk menunggu ladang gaga ini.
Bagus Santri    : Baiklah Bapak, apa yang menjadi perintah Bapak, akan saya kerjakan.
Ki Wangsaita    : Karena tanaman padi gaga ini sudah mulai menguning, maka tunggulah burung-burung di sini.

Setelah mempercayakan Bagus Santri untuk menunggu ladang gaganya, Ki Wangsaita terus pulang dan menceritakan kepad aistrinya bahwa ia telah memiliki pembantu untuk menunggu burung di ladang gaga. Istrinya diminta ke ladang gaga setiap hari untuk mengirim makanan ke ladang setiap pagi, siang dan sore untuk Bagus Santri di ladang.

Oleh Bagus Santri, burung-burung yang berdatangan mengeroyok memakan padi dibiarkan saja, karena perintah pemilik ladang supaya menunggu burung, ia tidak pengusir burung-burung yang berdatangan memakan padi. Sebab, apa yang dipesankan oleh Ki Wangsaita adalah menunggu burung di ladang.

Karena padi yang sedang menguning itu setiap hari diserang oleh ratusan burung, akibatnya padi gaga menjadi rusak dan bahkan hampir habis.  Pad suatu saat, datanglah kKi Wangsaita ke ladang gaga untuk menengok tanaman padi gaga yang sudah menguning dan siap diketam.

Tetapi alangkah terkejutnya Ki Wangsaita melihat tanaman padi gaga di ladangnya telah rusak akibat dimakan burung. Maka marahlah Ki Wangsaita kepada Bagus Santri yang telah dipercayakan menunggu burung di ladang.

Ki Wangsaita berpendapat sia-sia mempercayakan orang menunggu padi gaga, karena bukan diselamatkan, akan tetapi sebaliknya, tanaman padi gaga menjadi rusak.

Lontaran Ki Wangsaita yang sedang marah dihadapi oleh Bagus Santri dengan ketenangan hatinya. Berkatalah Bagus Santri: “Bapak, rasanya saya tidak salah, sebab bapak telah memerintahkan saya untuk menunggu burung di ladang gaga, karena itulah, burung yang datang dan memakan padi di ladang gaga ini saya biarkan. Bukankah pesan bapak, saya harus menunggu burung, bukan untuk mengusirnya saat menyerang dan memakan padi?”

Ketika Ki Wangsaita mendengar perkataan Bagus Santri, jadi bungkam seribu bahasa, ia merasa keliru memberi perintah kepad Bagus Santri. Namun demikian, karena Ki Wangsaita tetap tidak mau kalah dengan jawaban Bagus Santri, ia tetap menyalahkan Bagus Santri dan memintanya agar tanaman padi gaga yang telah rusak agar kembali seperti semula. Ketika Bagus Santri mendengar ucapan Ki Wangsaita, ia kemudian meminta kepada mbok Wangsaita agar membuatkan nasi tumpeng mogana dan ketupat selamat, lepet pada hari Kemis Kliwon, di samping itu agar disetiap sudut ladang gaga dipasang dengan janur kuning dengan sebagian sesaji yang diambilkan dari sebagian nasi tumpeng tadi. Setelah nasi tumpeng dan lepet selesai dibuat, maka pada malam harinya lepas waktu maghrib dilaksanakan selamatan dengan mengundang tetangga dekat.

Setelah Bagus Santri menyampaikan hal ihwal selamatan, terus bangkit dari tempat duduknya dan pergi menyusuri bengawan Donan ke arah utara.

Dengan perasaan yang sangat kesal, pulanglah Ki Wangsaita ke rumah dan menceritakan hal itu kepada istrinya.

Keesokan harinya, Ki Wangsaita datang lagi ke ladang gaga melihat tanaman padi yang telah dibuatkan selamatan seperti apa yang telah diminta oleh Bagus Santri.

Ketika Ki Wangsaita sampai di ladang, rasa kagumnya timbul, tanaman padi yang seula telah rusak akibat serangan burung, kini telah kembali seperti semula.
Ketika padi itu diketam, hasilnya lebih banyak daripada hasil panen yang lalu.

Sadarlah Ki Wangsaita bahwa Bagus Santri yang telah dicaci maki sebenarnya adalah orang yang memiliki ilmu luhur, terbukti telah membuat mukjizat hingga padi yang telah rusak oleh burung, dapat kembali seperti semula.

Penyesalan timbul di hati Ki Wangsaita dan bertekad untuk mencari Bagus Santri yang telah meninggalkan tempat itu.

Tekadnya bulat, ia harus mencari Bagus Santri, seorang yang kenyataannya memiliki budi yang amat luhur.

Terkisahlah, kepergian Ki Wangsaita mencari Bagus Santri sampai berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun namun tiada hasilnya dan Ki Wangsaita juga tidak kembali ke desanya.
Bagus santri terus berjalan menuju ke utara, dan sampailah pada suatu tempat, di situ ia beristirahat sejenak sambil mendakwahkan ajaran Agama Islam seperti di tempat lainnya yang pernah dikunjungi.

Sejarah Jojog, Ciwaru dan Cikuya
Karena kampung tadi adalah kampung yang pertama, setelah Bagus Santri meninggalkan gubug Ki Wangsaita di Kedungsalam, kampung di mana ia tiba yang pertama itu kemudian dinamakan Jojog (Anjog – Jw = sampai). Kampung tersebut kini berada di sebelah barat Bengawan Donan.
Setelah rasa lelahnya berkurang, maka ia meneruskan perjalanannya ke utara menyusuri tepian Bengawan Donan dan sungai serta melalui hutan rimba. Di suatu tempat, di tepian hutan Bagus Santri beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon waru sambil membuat tarub dari daun-daun waru untuk menahan terik matahari. Tatkala matahari sudah mulai condong ke arah barat, Bagus Santri bangkit dari duduknya dan meneruskan perjalanannya.

Sebelum ia melangkahkan kakinya, terlebih dahulu memberikan nama tempat di mana ia duduk dan singgah di bawah pohon waru, dengan nama Kedungwaru dan yang kemudian berubah menjadi Ciwaru.

Bagus santri meneruskan perjalanannya ke utara, melalui hutan rimba. Yang dipenuhi pohon-pohon serta dahan yang rindang dan tidak teratur. Di suatu tempat, sangkok/ kopyah Bagus Santri terkait sebatnag pohon hingga jatuh. Dikemudian hari tempat itu disebut dengan nama Cikopyah dan karena orang disitu susah mengatakan nama Cikopyah, kini berubah menjadi nama Cikuya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Episode 15 - Pengembaraan Santri Undig di Sebrang Bengawan Donan"

Posting Komentar

Terimakasih mengirim komentar, Anda akan mendapat tanggapan dari kami secepatnya, Terimakasih.